kontroversi ksatria trisula wedha

arifin said,

trisula wedha, menurut pikiran saya adalah Iman, Islam, Ihsan karena ada kata wedha berarti mengacu pada Kitab Suci= Al Qur’an. Sisi Iman adalah tajam dan tidak bisa dikompromikan, sisi Islam perbuatan dan pembeda dengan tegas jalan Allah yang lurus dan jalan syaithan yg sesat dan dimurkai, sisi ihsan adalan pengamalan yang utuh dan bermasyarakat yang baik yang mengayomi dan melindungi hidup yang silih asah, silih asih adn silih asuh.
Orangnya seperti kresna dan bertabiat baladewa, bisa mempunyai makna bahwa kresna titisan dewa, yang berarti ada darah keturunan orang besar atau ulama besar, bertabiat baladewa, bisa berarti ornganya tegas dan hanya tunduk pada kemauan dewa, atau taat akan ajaran Allah yang disampaikan melalui Rasulullah yi ajaran dan perbuatan yang dicontohkan rasulullah dan sahabat utamanya dan penerus para ulama yang lurus, jujur dan mencintai umatnya, tegas dalam membedakan yang benar dan salah dan tidak diperjual-belikan. Karena itu baladewa waktu akan perang besar baratayudha dikurusetra, baladewa yg berada diposisi hastina, meninggalkan hastina untuk pergi dan tidak ikut perang. ini menunjukkan baladewa secara moral berpihak kepada pandawa yg benar dan meninggalkan astina sbg lambang angkara murka. Bisa saja orang ini ada dipihak atau berada pada posisi yg berpihak pd gonjang-ganjing atau para penguasa korup dan sewenang-wenang dalam melaksanakan pemerintahan dan dalam menegakan hukum, namun dia tidak mau ikut2an, dia lebih baik menghindarkan diri dan berpihak kepada yang benar, yi kepada para pembela kejujuran dan beramal saleh, yang kini sedang bertapa, atau diam dan berdoa. wallahu’alam.


  1. arifin said,

    kalabendhu itu bisa dartikan kemarahan waktu, atau waktu yg penuh angkara murka, banyak kejahatan dan ksewenag-wenangan, kebenaran menurutkan hawa nafsu manusia, yg terkadang bisa lebih angkara daripada binatang dan sama sekali tidak merujuk kepada kebenaran menurut ajaran Tuhan, atau ajaran agama. Agama atau ajaran kebenaran tidak dijadikan dasar kekuatan dan rujukan hukum dan acuan kebenaran dalam penegakkan hukum dan menjalankan pemerintahan, akibatnya khalayak banyak teraniaya, penganjur kejahatan dianggap dan diperlakukan kawan, kebohongan dan kepalsuan dijadikan dasar tindakan hukum dan akibatnya rakyat dan hamba sahaya sangat ternista dan teraniaya, hak2nya dihancurkan dan dimana-mana diseantero jagat perlakuan ketidak adilan merajalela.
    Kita berdoa semoga Allah SWT segera menurunkan orang yg menegakkan kebenaran dan membela rakyat dan anak bangsa yang teraniaya dimuka bumi ini. Dan para penjahat dan penolong kejahatan segera dihancurkan dan dihukum dengan adil.
    Sang Ratu Adil segera datang dengan musnahnya si Angkara Murka. Semoga zaman angkara murka ini segera berlalu. Semoga pendekar dengan trisulawedha segera muncul. Amin.
    • Mbah jarwo said,

      @Mas Arifin:
      Sblumnya saya minta maaf kalo ada kesalahan kalimat saya,
      Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon
      dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon
      menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang
      sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :Sabdo Palon :
      “Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan,
      irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng
      bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang
      mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang
      kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah
      wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”(“Paduka
      sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya),
      kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada
      bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata
      satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka.
      … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya
      (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua
      adalah saya, …”)
      “….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha,
      turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa
      sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang
      mangrêti.”(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam,
      meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang
      memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya
      hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin
      oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
      “….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng
      tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang
      wêruha marang bênêr luput.”(“….. Sang Prabu diminta memahami,
      suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh),
      berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan
      (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa
      melihat benar salahnya.”)
      Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa
      suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi)
      yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti
      datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi
      “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan
      dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan
      akibat-akibatnya dalam waktu berjalan.
      Menurut saya Kalimat-kalimat anda mencermikan kalo anda di dalam posisi prabu brawijaya,benar kan??(kearab-araban)
      Mohon maaf kalo kata-kata saya bila kurang berkenan dihati anda.
      Wasssalam,
      • Mbah jarwo said,

        Meripat setunggal =Tuhan Yang Maha Esa atau dengan nama lain;
        Allah/Sang hyang Dumadi/sang hyang widhi dsbnya.
  2. adnyana said,

    menurut saya menyerang tampa pasukan adalah orang yang bisa membuat musuh kalah dengan menyingkap dengan data dan fakta tampa menggunakan kekuatan fisik. tapi mengalahkan musuh dengan pikiran ilmiah jujur,tegas ,dan sesuai fakta. dan kemungkinan orang tersebut adalah ilmuan yang jujur
  3. Shivor said,

    ALLAH HYANG MAHA AGUNG
  4. GoldenVhisnu13 said,

    Terkait senjata TRISULA WEDA, memang ada orang yang punya dijidatnya, tapi jaman sekarang semua perlu dikaji dengan logika dan qolbu yang ikhlas. Yang penting di masa depan saudara-saudara kita tidak menganggur & cari makan secara sportif, memperoleh kecerdasan berpikir & berperilaku, priyayinya beretika, hak & kewajibannya diayomi sebagai pribumi yang utuh.
  5. hira said,

    trisula = Kekuatan militer
    Wedha = Hati nurani
    jadi memimpin militer dengan hati nurani.
  6. Nabi Agama Buddhi said,

    trisula wedha itu semua orang tahu artinya.
  7. kudaputih said,

    wahai sodara-2 q, trisula wedha bukanlah pusaka yg berwujud gaman atau senjata, tp berwujud ukoro atau ajaran suci yg berdasar pd 3 hal : kebenaran, kejujuran, dan kebranian, sama spt bendera nkri merah-putih yg maksudnya serupa, senjata tsb tdk akan kalah oleh jaman, dimana tempat dimana waktu pasti bisa digunakan….
  8. Rahasia said,

    semoga semua kebaikan dan kebenaran ramalan menjadi kenyataan
  9. Zulpan martin said,

    Ass, orang tersebut sudah ada dimedan dia adalah titisan wisnu
  10. Bhinna Bhyantara said,

    beberapa orang buta bertemu, dan mereka mencoba menterjemahkan serta mencoba mendeskripsikan seperti apa bentuk seekor gajah itu. Seorang memegang kuping gajah tersebut, seorang memegang ekor gajah tersebut, seorang memegang belalai gajah tersebut, dan 4 orang lainnya memegang setiap kaki – kaki gajah tersebut, kira kira komentarnya seperti apa ya?
  11. zhico kokoru said,

    ia menggambarkan gajah sesuai bagian-bagian yg dipegangnya. misalnya gajah akan digambarkan berbentuk lonjong seperti belalai, orng yang memegang telingaakan blg gajah itu lebar, bulat, pipih, bahkan yg memegang ekor akan bilang bentuk gajah seperti cemeti.
    mungkin dari gambaran tentang gajah yg hanya dipahami perbagian bs disimpulkan bahwa kebenaran adalah suatu hal yg besar dan mutlak dari tuhan. kebenaran tuhan (yg digambarkan sbg bentuk gajah sesungguhnya)hanya dapat ditangkap perbagian sja oleh pengetahuan manusia yg terbatas dibandingkan pengrtahuan tuhan.
    jika kemudian manusia yg sama2 memegang hanya bagian tertentu gajah ngotot mengatakan bahwa itu adalah gambaran gajah sesungguhya, maka bisa dibayangkan ketololan apa yg sedang diperdebatkanya. kalau saja masing masing orang dengan pengetahuan parsial itu mau menggabungkan apa yang diketahuinya dari bagian2 gajah yang ia pegang,,,akan ada kemungkinan gajah yang sesungguhnya atau paling tidak mendekati sempurna dapat digambarkan dengan benar.
    mgkin itulah gambaran bagaimana kita menggunakan pengetahuan yang berbeda-beda melihat kebenaran sesuatu ( dlm hal ini trisula weda)
  12. pemanah malam said,

    Satu2nya yg diumpetin itu Sulthonul Auliya
  13. Bocah Anon said,

    Trisula World Wide Web :)
  14. satria said,

    Bisa jadi dia bersenjatakan 3 kitab besar: Taurat, Injil dan Al-Qur’an dengan pemahaman yang benar. Kebenaran yang justru akan mendapat pertentangan dari para ulama Taurat, Injil dan Qur’an karena pemahaman yang berbeda dengan apa yang selama ini dipahami oleh umum

Stop..!!. Bisnis Reseller Tanpa Modal, Produk Organik Alami Back to Nature, Potensi Jutaan Seminggu Pendaftaran Gratis Mau? SELENGKAPNYA KLIK DISINI

kontroversi ksatria trisula wedha kontroversi ksatria trisula wedha Reviewed by Adhin Busro on 10.17 Rating: 5

2 komentar

  1. Trisula weda telah ditemukan 1 Desember 2012, baca pada blog : http://ufo-spiritual.blogspot.com/2013/01/senjata-trisula-weda-ratu-adil-939.html

    BalasHapus
  2. Budha Telah Menggambarkan Satria Piningit Datang
    Nama Budha pertama kali dipakai oleh Sidharta Gautama atau sakyamuni sebagai pendiri Budha. Nama Budha pertengahan tidak dipakai oleh Nabi Muhammad . Nama Budha terakhir kali dipakai Satria Piningit Arti Budha Satria Piningit ada banyak sekali antara lain "Yang Telah Sadar, Satria Piningit Sang Penemu Kebenaran(Bujjhita), Satria Piningit yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Satria Piningit yang memberikan penerangan (Bodhita) dari generasi ke generasi,
    Tapi siapa pun dia Sang Budha, ada hal yang menarik dimana di dalam beberapa ayat dalam Kitab Budha terdapat beberapa penggambaran dengan sosok Sang Budha. Seperti halnya kaum Muslim ketahui, Tuhan telah memberikan firman-Nya kepada Nabi Muhammad yang pada Kitab Suci yang terdahulu yang sekarang mungkin sudah tercampur dengan tulisan manusia. Hal ini telah diungkap oleh seorang ulama Islam yaitu Dr Zakir. Dalam tulisannya beliau menulis beberapa hal sebagai berikut
    Menurut Chakkavatti Sinhnad Suttanta D. III, 76:
    "Akan muncul di dunia seorang Budha Maitreya (yang baik hati) bernama Satria Piningit, seorang yang suci dan kuat, yang tercerahkan, penuh kebajikan dalam tingkah laku, tepat, dan mengenal alam semesta "
    "Apa yang telah dinyatakan oleh pengetahuan supernatural milik Satria Piningit akan di terbitkan ke seluruh alam semesta. Satria Piningit mengkotbahkan agama, mulia dalam keaslian, mulia pada puncak, mulia pada tujuan, dalam jiwa dan tulisan. Satria Piningit memproklamasikan kehidupan religius, murni dan sempurna sepenuhnya, seperti saat Nabi Muhammad mengkotbahkan agama dan memproklamasikan semacam kehidupan religius. Satria Piningit membuat masyarakat religius berjumlah ribuan, seperti saat Nabi Muhammad membentuk masyarakat yang berjumlah ratusan".
    Hal ini menurut Sacred Books of the East volume 35 pg. 225:
    “Aku bukanlah Budha satu-satunya yang berkuasa dalam memerintah dan mengatur. Setelahku ada Budha Maitreya yang lain, bernama “Satria Piningit” yang penuh kebajikan datang. Aku sekarang hanya memimpin ratusan, sedangkan Satria Piningit memimpin ribuan.“
    Ananda bertanya kepada Yang Terberkati : "siapa yang mengajar kami setelah engkau pergi?".
    Yang Terberkati menjawab:"Aku bukanlah Budha pertama yang datang di atas bumi dan tidak akan menjadi yang terakhir. Pada waktu nanti seorang Budha Satria Piningit muncul di dunia, yang suci, yang sangat tercerahkan,, penuh kebajikan dalam laku, tepat, mengenal alam semesta, seorang pemimpin yang tak tertandingi manusia. Satria Piningit mengungkapkan kepada anda kebenaran abadi yang sama yang saya ajarkan. Satria Piningit mengkotbahkan agama, bersifat mulia, mulia pada puncak dan mulia pada tujuan. Satria Piningit mendeklarasikan suatu kehidupan beragama, sepenuhnya sempurna dan murni seperti sekarang saya nyatakan. Murid-murid Satria Piningit berjumlah ribuan sedangkan muridku hanya ratusan."
    Ananda bertanya:"Bagaimana kita mengenal Satria Piningit?"
    Yang Terberkati menjawab : "Satria Piningit dikenal sebagai Maitreya".
    Kata Sansekerta ‘Maitreya’ atau ekuivalen dalam bahasa Pali “Metteyya” berarti mencintai, penuh kasih, penuh belas kasih dan murah hati. Hal ini juga berarti kebaikan dan keramahan, simpati, dll Satu kata Arab yang setara dengan semua kata-kata ini adalah ‘Rahmat’. Dalam Surah Al-Anbiya:
    "Kami tidak mengutus Satria Piningit, melainkan sebagai rahmat bagi semua makhluk (QS 21:107)
    Menurut Sacred Books of the East, volume 11, pg36 Maha-Parinibbana Sutta chapter 2-32:
    "Satria Piningit memberitakan kebenaran tanpa membuat perbedaan antara doktrin exoteris dan isoteris dalam hal kebenaran, Ananda, Tataghata bukan seperti guru yang memiliki kepalan tertutup yang merahasiakan sesuatu di belakang".
    "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya Satria Piningit hanyalah orang yang memberi peringatan (QS 88:21)

    BalasHapus

Post AD