Wahai Anakku, Allah Memerintahkanku Untuk Menyembelihmu
Wahai Anakku, Allah Memerintahkanku Untuk Menyembelihmu
Betapa gembiranya hati Ibrahim yang berusia 83 tahun itu takala istri keduanya melahirkan anak, anak pertama. Anak yang selama puluhan tahun didambanya benar kenikmatan itu telah menyempurna. Tiada yang disukai Ibrahim lagi kecuali putra tampannya itu, Ismail. Sarah sang istri pertama hanya bisa senyum palsu iri, melihat kebahagiaan mereka berdua menimang bayi itu. Sarah mandul.
Kesedihan dan kecemburuan sarah terus memuncak saban hari. Tak jelas apakah awalnya Allah-lah yang memerintahkan menjauhkan ismail dan ibunya Siti Hajar dari rumah itu, di Yordania, atau kah sarah yang membisiki Ibrahima agar sebaiknya mengenyayahkan Siti Hajar dan anaknya itu ke tempat yang jauh.
Menurutku itu perintah Allah. Karena ‘kesalahan’ ibrahim yang mencurahkan perhatian penuh pada putranya, sementara Allah Maha Pencemburu.
Ibrahim lalu membawa Siti Hajar dan Ismail menjauh ke arah barat, tak jelas mau kemana. Perjalanan itu tentu memakan waktu mingguan, dan sampailah mereka ke sebuah lembah tandus yang dikelilingi gunung-gunung batu tak bertanah. Angin panas sesekali mendesau kencang.
Ibrahim menurunkan Siti Hajar yang menggendong bayinya, tanpa ucapan apa-apa. Ibrahim lalu berpaling dan melangkah sedikit menjauh tanpa ucapan perpisahan.
“Suamiku, apakah ini perintah Allah?” teriak Siti Hajar kebingungan.
“Ya,” jawab Ibrahim.
“Jika begitu saya rela!” Siti Hajar mungkin menangis atau tidak. Dia perempuan yang basicnya kuat, awalnya memang dia budak, lalu diperistri Ibrahim atas saran Sarah yang mandul, “supaya engkau peroleh keturunan,” kata Sarah.
Hajar tinggal sendirian atau berdua dengan bayinya di gurun pasir itu. Meski demikian ia tak merasa sendirian karena itu perintah Allah. Tapi rontaan bayi dipelukannya menyadarkannya kalau ia tak punya air susu lagi. ia butuh air.
Bayi di tengah gurun pasir
Awalnya ia mengendong Ismail, si bocah. Tapi terasa berat lalu, ia meletakkan ismail di padang pasir itu, dan mencoba berjalan atau berlari mencari sesuatu yang bisa dimakan atau diminum. Awalnya ia lari ke bukit yang kemudian disebut Safa, tak ada sesuatu yang menarik, segala arah adalah pemandangan yang bisa menyebabkan kematian tak ada penunjang hidup, tapi ia seolah olah melihat ada genangan air di sebelah bukit lain (kita sebut kemudian ia Marwah), itu mungkin air, semoga, lirihnya saat berlari mendekati fatamorgana yang mengenang2 di retinanya itu.
Tentu tak ada apa2 di lembah gersang itu. Ismail terus meronta, kehausan dan kelaparan. Hajar nyaris putus asa, ketika dia mencoba melihat perkembangan Ismail, alangkah herannya tatkala di bawah kaki Ismail keluar air memancar deras, deras sekali, sampai hajar berteriak keras, kumpul kamu kumpul kamu (jangan tebuang). Zam zam zam zam zam.
Hajar sibuk bukan main berusaha membendung derasan air jernih itu. ia pun minum sepuasnya . Air asinya kembali penuh. Ismail pun berhenti menangis, kenyang.
Genangan air itu memikat burung burung untuk minum. dan pula menarik perhatian sekelompok musafir yang mengerti kalau ada burung burung pasti ada air. Mereka lalu mendekati sumber burung-burung itu. dan mendapati perempuan dengan bayinya tengah menunggui kolam zam zam itu.
Jadilah tempat itu sebuah kampung kecil dan mulailah terbentuk sebuah suku baru.
11 tahun kemudian Ibrahim sangat rindu pada anak tunggalnya itu. Ia pun bertolak ke tempat ia menitipkan istri keduanya. Ia heran bagaimana tempat yang dulu sepi itu tiba-tiba ramai dan menjadi sebuah kampung. Alhasil, diapun ketemu istrinya Hajar, dan tentu saja anaknya Ismail. Deg, kencang sekali degup jantung Ibrahim, melihat perawakan Ismail yang keriting dan tegap. Ia menghambur memeluk dan mencium anak semata wayang itu. Cuma beberapa hari Ibrahim melepas rindu itu, tatkala ia selalu didatangi mimpi, ‘Ibrahim sembelih anakmu’. Mimpi di malam pertama Ibrahim, cuek. tapi ini sudah malam ketiga, ‘Ibrahim potong anakmu’.
Apakah ini Perintah Allah?
Pagi hari, Ibrahim membawa Ismail tanpa bilang2 ke hajar. Ia menjauh ke pinggir kampung. Di sana ia meletakkan Ismail di atas batu yang sedikit lapang.
“Anakku, saya bermimpi melihat kamu, saya sembelih, ” atau begini”Wahai Anakku aku bermimpi, Allah memerintahkanku untuk menyembelihmu.”
“Apakah itu perintah Allah?”
“YA,”
“Laksanakanlah, sesunguhnya engkau akan mendapatiku orang yang bersabar”.
Ibrahim semula hendak mengikat Ismail dan menutup mata Ismail. Tapi Ismail menolak. Ia malah balik menyarankan agar bapaknyalah yang menutup mata. Ibrahim lalu ,menutup mata, dan yakin kalau pedangnya telah mengarah di urat leher Ismail.
Crass, Ibrahim, yakin leher itu telah tertebas, ia mengintip. Ismail masih utuh. Lehernya tak luka. Lagi ia menutup mata, kali ini lebih keras lagi tebasannya.
Crass, tak ada kemajuan apa2.
Ismail seolah sakti.
Ketiga kalinya bahkan setelah Ibrahim mengasah ulang pedang itu dan mencoba menebas batu yag lalu tepotong sempurna. apa yang salah?
Ketiga kalinya lah Allah mengirim Jibril membawa kibas dari surga yang sangat gemuk dan putih mengkilap. Ismail ditarik oleh Jibril dan diletakkan kibas itu di batu itu. Ketika ibrahim membuka matanya telah tersembelih korban itu tapi bukan Ismail. “Allahu akbar”teriak Ibrahim.
“walillahal hamd,” balas Ismail.
“Lailaha illah..dst” bersahut-sahutan malaikat penjuru langit mengabadikan peristiwa emosional itu.
Terdengar suara dari langit, Ibrahim kamu telah membutktikan pengorbananmu. mungkin itu suara Allah atau Jibril, wallahu allam.
Kenapa Ibrahim diperintahkan menyembelih Ismail?
Karena konon Ibrahim yang sangat saleh itu setelah membuktikan bagaimana ia membuang Siti Hajar ke lembah tandus itu sebagai perintah Allah, pernah berujar dalam hati, hmm seandainya pun Allah suruh saya sembelih anakku pun akan kulakukan. dan Allah hendak mmebuktikan itu.
Ibrahim punya sifat pengurbanan yang tinggi, ia terkenal sangat super dermawan. Ia terkenal tak pernah mau makan kecuali ada tamu di sampingnya yang ikut makan. Sampai ia harus menunggui orang di jalan lewat demi bisa makan bersama orang lain.
Sangat menghormati tamu oleh orang arab mungkin warisan Ibrahim ini.
Sejak peristiwa pengurbanan itu ibrahim pun diberi kabar gembira akan lahirnya bayi berikutnya, Ishak dari istrinya, Sarah, yang mandul. Dari ishak kemudian lahir nabi- nabi terpopuler dan keturunan yang hebat-hebat. Yakup, Daud, Musa, Zakeriah, Yahya, Isa, dll semua adalah keturuhan Ibrahim. Orang tua yang saleh cenderung melahirkan anak saleh pula.
Ibadah haji adalah hampir semuanya napak tilas tingkah Siti Hajar dan Ibrahim. Jemaah yang berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah mestinya mengingatkan mereka pada perempuan tegar bernama Hajar. Dan juga napak tilas Ibrahim, ia telah mengorbankan banyak hal, dan ia rela demi keridhaan-Nya.
Kesedihan dan kecemburuan sarah terus memuncak saban hari. Tak jelas apakah awalnya Allah-lah yang memerintahkan menjauhkan ismail dan ibunya Siti Hajar dari rumah itu, di Yordania, atau kah sarah yang membisiki Ibrahima agar sebaiknya mengenyayahkan Siti Hajar dan anaknya itu ke tempat yang jauh.
Menurutku itu perintah Allah. Karena ‘kesalahan’ ibrahim yang mencurahkan perhatian penuh pada putranya, sementara Allah Maha Pencemburu.
Ibrahim lalu membawa Siti Hajar dan Ismail menjauh ke arah barat, tak jelas mau kemana. Perjalanan itu tentu memakan waktu mingguan, dan sampailah mereka ke sebuah lembah tandus yang dikelilingi gunung-gunung batu tak bertanah. Angin panas sesekali mendesau kencang.
Ibrahim menurunkan Siti Hajar yang menggendong bayinya, tanpa ucapan apa-apa. Ibrahim lalu berpaling dan melangkah sedikit menjauh tanpa ucapan perpisahan.
“Suamiku, apakah ini perintah Allah?” teriak Siti Hajar kebingungan.
“Ya,” jawab Ibrahim.
“Jika begitu saya rela!” Siti Hajar mungkin menangis atau tidak. Dia perempuan yang basicnya kuat, awalnya memang dia budak, lalu diperistri Ibrahim atas saran Sarah yang mandul, “supaya engkau peroleh keturunan,” kata Sarah.
Hajar tinggal sendirian atau berdua dengan bayinya di gurun pasir itu. Meski demikian ia tak merasa sendirian karena itu perintah Allah. Tapi rontaan bayi dipelukannya menyadarkannya kalau ia tak punya air susu lagi. ia butuh air.
Bayi di tengah gurun pasir
Awalnya ia mengendong Ismail, si bocah. Tapi terasa berat lalu, ia meletakkan ismail di padang pasir itu, dan mencoba berjalan atau berlari mencari sesuatu yang bisa dimakan atau diminum. Awalnya ia lari ke bukit yang kemudian disebut Safa, tak ada sesuatu yang menarik, segala arah adalah pemandangan yang bisa menyebabkan kematian tak ada penunjang hidup, tapi ia seolah olah melihat ada genangan air di sebelah bukit lain (kita sebut kemudian ia Marwah), itu mungkin air, semoga, lirihnya saat berlari mendekati fatamorgana yang mengenang2 di retinanya itu.
Tentu tak ada apa2 di lembah gersang itu. Ismail terus meronta, kehausan dan kelaparan. Hajar nyaris putus asa, ketika dia mencoba melihat perkembangan Ismail, alangkah herannya tatkala di bawah kaki Ismail keluar air memancar deras, deras sekali, sampai hajar berteriak keras, kumpul kamu kumpul kamu (jangan tebuang). Zam zam zam zam zam.
Hajar sibuk bukan main berusaha membendung derasan air jernih itu. ia pun minum sepuasnya . Air asinya kembali penuh. Ismail pun berhenti menangis, kenyang.
Genangan air itu memikat burung burung untuk minum. dan pula menarik perhatian sekelompok musafir yang mengerti kalau ada burung burung pasti ada air. Mereka lalu mendekati sumber burung-burung itu. dan mendapati perempuan dengan bayinya tengah menunggui kolam zam zam itu.
Jadilah tempat itu sebuah kampung kecil dan mulailah terbentuk sebuah suku baru.
11 tahun kemudian Ibrahim sangat rindu pada anak tunggalnya itu. Ia pun bertolak ke tempat ia menitipkan istri keduanya. Ia heran bagaimana tempat yang dulu sepi itu tiba-tiba ramai dan menjadi sebuah kampung. Alhasil, diapun ketemu istrinya Hajar, dan tentu saja anaknya Ismail. Deg, kencang sekali degup jantung Ibrahim, melihat perawakan Ismail yang keriting dan tegap. Ia menghambur memeluk dan mencium anak semata wayang itu. Cuma beberapa hari Ibrahim melepas rindu itu, tatkala ia selalu didatangi mimpi, ‘Ibrahim sembelih anakmu’. Mimpi di malam pertama Ibrahim, cuek. tapi ini sudah malam ketiga, ‘Ibrahim potong anakmu’.
Apakah ini Perintah Allah?
Pagi hari, Ibrahim membawa Ismail tanpa bilang2 ke hajar. Ia menjauh ke pinggir kampung. Di sana ia meletakkan Ismail di atas batu yang sedikit lapang.
“Anakku, saya bermimpi melihat kamu, saya sembelih, ” atau begini”Wahai Anakku aku bermimpi, Allah memerintahkanku untuk menyembelihmu.”
“Apakah itu perintah Allah?”
“YA,”
“Laksanakanlah, sesunguhnya engkau akan mendapatiku orang yang bersabar”.
Ibrahim semula hendak mengikat Ismail dan menutup mata Ismail. Tapi Ismail menolak. Ia malah balik menyarankan agar bapaknyalah yang menutup mata. Ibrahim lalu ,menutup mata, dan yakin kalau pedangnya telah mengarah di urat leher Ismail.
Crass, Ibrahim, yakin leher itu telah tertebas, ia mengintip. Ismail masih utuh. Lehernya tak luka. Lagi ia menutup mata, kali ini lebih keras lagi tebasannya.
Crass, tak ada kemajuan apa2.
Ismail seolah sakti.
Ketiga kalinya bahkan setelah Ibrahim mengasah ulang pedang itu dan mencoba menebas batu yag lalu tepotong sempurna. apa yang salah?
Ketiga kalinya lah Allah mengirim Jibril membawa kibas dari surga yang sangat gemuk dan putih mengkilap. Ismail ditarik oleh Jibril dan diletakkan kibas itu di batu itu. Ketika ibrahim membuka matanya telah tersembelih korban itu tapi bukan Ismail. “Allahu akbar”teriak Ibrahim.
“walillahal hamd,” balas Ismail.
“Lailaha illah..dst” bersahut-sahutan malaikat penjuru langit mengabadikan peristiwa emosional itu.
Terdengar suara dari langit, Ibrahim kamu telah membutktikan pengorbananmu. mungkin itu suara Allah atau Jibril, wallahu allam.
Kenapa Ibrahim diperintahkan menyembelih Ismail?
Karena konon Ibrahim yang sangat saleh itu setelah membuktikan bagaimana ia membuang Siti Hajar ke lembah tandus itu sebagai perintah Allah, pernah berujar dalam hati, hmm seandainya pun Allah suruh saya sembelih anakku pun akan kulakukan. dan Allah hendak mmebuktikan itu.
Ibrahim punya sifat pengurbanan yang tinggi, ia terkenal sangat super dermawan. Ia terkenal tak pernah mau makan kecuali ada tamu di sampingnya yang ikut makan. Sampai ia harus menunggui orang di jalan lewat demi bisa makan bersama orang lain.
Sangat menghormati tamu oleh orang arab mungkin warisan Ibrahim ini.
Sejak peristiwa pengurbanan itu ibrahim pun diberi kabar gembira akan lahirnya bayi berikutnya, Ishak dari istrinya, Sarah, yang mandul. Dari ishak kemudian lahir nabi- nabi terpopuler dan keturunan yang hebat-hebat. Yakup, Daud, Musa, Zakeriah, Yahya, Isa, dll semua adalah keturuhan Ibrahim. Orang tua yang saleh cenderung melahirkan anak saleh pula.
Ibadah haji adalah hampir semuanya napak tilas tingkah Siti Hajar dan Ibrahim. Jemaah yang berlari-lari kecil antara Safa dan Marwah mestinya mengingatkan mereka pada perempuan tegar bernama Hajar. Dan juga napak tilas Ibrahim, ia telah mengorbankan banyak hal, dan ia rela demi keridhaan-Nya.
Stop..!!. Bisnis Reseller Tanpa Modal, Produk Organik Alami Back to Nature, Potensi Jutaan Seminggu Pendaftaran Gratis Mau? SELENGKAPNYA KLIK DISINI
Wahai Anakku, Allah Memerintahkanku Untuk Menyembelihmu
Reviewed by Adhin Busro
on
09.37
Rating:

Post a Comment